Katakanlah kita seorang diri di dunia ini namun mempunyai kemampuan yang
luar biasa, mampu menciptakan mahluk yang seperti kita ini dalam sekejab
saja. Kalau kita menginginkan seorang teman tentunya langsung kita
ciptakan yang seperti kita dalam sekejap. Tentunya tidak perlu kita
ciptakan calon teman kita berupa seekor amuba yang bersel satu lalu
menunggu berjuta-juta tahun berevolusi menjadi manusia seperti kita,
lalu kalau dia mempunyai kesamaan dengan kita baru kita berteman. Sebab
kita mampu menciptakan teman kita dalam sekejab menurut bayangan kita
sendiri....ternyata Dia tak seperti itu dalam mencipta bukan ..?? karena ternyata Dia selalu mengikuti hukum2 kausalitas yang berlaku di alam ini.... yaitu sunattulah juga.
Namun kenapa sebagian dari kita menaruh prasangka yang tidak baik/logis
terhadap Tuhan Maha Pencipta yang Maha Pemurah, yang senantiasa memberi
kecintaan tanpa pamrih. Jawaban singkatnya adalah karena keterbatasan
kita sendiri. Kita berprasangka bahwa Tuhan baru mau dekat dengan kita
kalau kita memenuhi keinginan-keinginanNya, dengan kata lain sangat
punya pamrih atau sangat conditional atau Transaksional....heheh berdagang kok dengan yang maha kaya...n maha punya segalanya...ya gak laku lah yau... Setelah saya
mengenalNya kembali lebih dekat, lebih menyatu, ternyata prasangka kita
salah, ternyata yang ada pada Dirinya hanyalah kecintaan tanpa pamrih,
Ar-Rahman...."unconditional Love" yang diekspresikan pada setiap ciptaannya...bahakan pada struktur dasar pembentuk materi, pola2 unconditional love terdapat disetiap sel tubuh anda, disetiap molekul tubuhmu, disetiap atom...disetiap relung dari quantum....
Ingatlah waktu dulu kita semua diciptakan Nya pada kali pertama, kita
semua mempunyai kemampuan yang tak berhingga, tak berbatas seperti
bayangan Sang Maha Pencita sendiri, dan senantiasa menyatu denganNya,
tidak pernah kita terpisah dariNya sekejabpun, tidak ada ruang tidak ada
waktu, yang ada hanya Kesatuan dalam Keabadian...yaitu Dia.
Namun kenapa sekarang kita semua berada dalam Alam Keterbatasan ini?
Rupa-rupanya ini adalah rencana kita semua dan rencana Tuhan juga, ingat
waktu itu tidak ada keterpisahan antara kita dengan Dia. Rencana Dia
adalah rencana kita, rencana kita adalah rencanaNya – tidak ada
keterpisahan. Tapi saya lebih cenderung hal ini adalah inisiatif kita,
untuk memberikan sesuatu kepadaNya, sebagai ungkapan kasih sayang,
kecintaan, terima kasih kita kepadaNya. Pada saat kita hidup dalam Alam
Ketiadaan dari Batas, kita ingin mengetahui lebih jauh apa arti dari
keterbatasan dan sekaligus akan lebih mengerti apa arti Ketiadaan dari
Batas. Untuk itu kita (ingat tidak ada keterpisahan antara kita dengan
Dia pada saat itu) ciptakan ruang-waktu dan Alam-alam yang terbatas ini
lalu kita semua "turun" ke alam ini serta melepaskan semua
atribut-atribut ke tak-berhingga kita. Kita sendiri yang memberi
tirai-tirai yang menutupi Jati Diri kita sebenarnya. Kesemua itu kita
lakukan untuk mengerti dan mengalami apa arti keterbatasan dan
selanjutnya mempersembahkan pengalaman ini kepada Dia yang Satu yang
sama-sama kita cintai. Pengalaman ini juga kita persembahkan kepada
sesama kita, karena sesungguhnya semua itu Satu adanya....ingat gak posting artikel tentang realitas adalah sebuah matrix program, dan kita didalam matrix itu...?
Kita ciptakan hirarki supaya kita mengerti apa arti inferioritas dan apa
arti superioritas, singkatnya untuk mengerti dengan menjalani sendiri
apa arti dualitas, karena di Alam Ketakberhinggaan yang ada hanya
Kesatuan (Unity), tidak ada keterpisahan – tidak ada dualitas. Kita
(ingat pada saat itu tidak ada keterpisahan antara kita dengan Dia)
ciptakan Tujuh Lapis Langit Kesadaran: Langit Pertama – Kesadaran
Mineral/Batu-batuan; Langit Kedua – Kesadaran Tumbuh-tumbuhan/Hewan;
Langit Ketiga – Kesadaran Manusia yang dapat menentukan baik-buruk
menurut presepsi masing-masing; Langit Keempat - Kesadaran akan
Kecintaan, relatif sebentar lagi Bumi akan naik ketingkatan ini; Langit
Kelima – Kesadaran akan Kebijaksanaan (wisdom), seluk beluk Alam Raya
akan terbuka ditingkatan ini; Langit Keenam - Kesadaran akan Kesatuan
(unity), dipertengahan alam ini kembali tidak ada lagi dualitas; Langit
Ketujuh – Kesadaran akan Ketakberhinggaan, kembali ke alam Keillahian,
awal dari suatu babak baru yang tak terbayangkan. Kita ciptakan
aturan-aturan / ketentuan-ketentuan / hukum-hukum di setiap alam, kita
sendiri yang mengatur dan menetapkan tata cara kenaikan jenjang tingkat
kesadaran. Sekali lagi ingat pada saat itu tidak ada keterpisahan antara
kita dengan Dia, karena sesungguhnya semua itu Satu adanya.
Kalau diibaratkan kita semua bagaikan anak-anak seorang Raja (Tuhan)
yang tinggal disebuah istana (Alam Ketakberhinggaan) yang sangat megah
dan serba berkecukupan. Suatu ketika kita semua ingin merasakan
bagaimana rasanya hidup ditengah hutan (Alam Keterbatasan). Kita
tinggalkan istana, kamar-kamar mewah, dayang-dayang dan masuk berkelana
ke dalam hutan dengan perlengkapan-perlengkapan yang seminim mungkin.
Setelah puas berkelana kita semua kembali ke istana dan menceritakan
semua pengalaman yang menakjubkan di dalam hutan kepada sang
Raja........ Kesulitan-kesulitan yang dialami justru menjadi kenangan
yang indah. Makin unik perjalanan kita masing-masing di dalam hutan
makin kaya pula pengalaman kita semua. Kalau semua pulang membawa cerita
yang sama tentu agak membosankan bukan? Namun ada pula saudara-saudara
kita yang jauh tersesat di dalam hutan dan mulai berputus asa dalam
mencari jalan kembali ke istana dan berteriak-teriak (Berdoa) mencari
dan meminta bantuan saudara-saudaranya yang lain. Untuk hal ini bagi
kita yang sudah melihat jalan kembali ke istana dan bisa mendengar
teriakan-teriakan mereka tentunya akan berusaha mencari dan membantu
mereka walau dengan risiko ikut tersesat, justru cerita mereka yang
tersesat inilah yang nantinya paling menarik....... Disisi lain ada pula
saudara-saudara kita yang sebenarnya sudah jauh masuk ke dalam hutan dan
sepertinya sulit kembali namun mereka menikmati saja petualangan mereka,
jadi kita biarkan saja mereka berkelana nanti toh kalau sudah bosan
mereka akan mencari jalan kembali ke istana dan kita akan dengar
pengalaman mereka yang pasti juga menarik.
Itulah sebabnya para Nabi, para Avatar,para mursyid yang umumnya sudah berada di
Langit Keenam bahkan beberapa sudah berada di Langit Ketujuh, turun
kembali ke Langit Ketiga ini untuk membantu saudara-saudaranya mencari
jalan kembali kepada yang Satu. Mereka memenuhi panggilan-panggilan
(doa) saudara-saudara mereka dengan penuh kecintaan tanpa pamrih, sama
seperti mereka yang dahulupun juga dibantu oleh para Nabi/Avatar. Walau
para Nabi/Avatar harus menghentikan kehidupan mereka yang sangat nyaman
di alam di atas sana dan dengan risiko ikut tersesat karena tidak bisa
melihat dengan jelas terhalang oleh tirai-tirai yang tidak berhasil
disingkap di alam ini. Sekali mereka berhasil menyingkap tirai-tirai
tersebut mereka dapat melihat dan mengenali kembali jalan menuju kepada
yang Satu karena mereka telah melaluinya dahulu. (Pengorbanan inilah
yang sebenarnya yang dirayakan / diingat setiap Idul Adha).
Di alam keterbatasan ini barulah kita dapat mengenal ke 99 nama-nama
Tuhan lainnya karena di alam ketakberhinggaan yang terlihat hanya sifat
Ar-Rahman Nya yang tak berbatas..... Di alam ini kita mengenali inferioritas
dengan menjadi hamba-hamba Nya yang terbatas, mengenali superioritas
dengan menjadi wakil-wakil Nya yang serba berkecukupan dibanding dengan
sesama kita tentunya. Kita merasa merugi kalau membandingkannya dengan
mereka yang lebih beruntung. Kita merasa hebat kalau kita
membandingkannya dengan mereka yang berkekurangan. Setelah kita puas
dengan perasaan-perasaan tersebut, pengalaman dualitas, barulah kita
dapat menempuh jalan kembali ke Alam yang Satu.
Semoga dengan kesadaran ini kita senantiasa dapat berprasangka baik
terhadap semua,termasuk pada bencana Tsunami yag baru saudara2 kita alami di Aceh,
karena semua ini diawali dengan niat yang mulia.
Penciptaan Alam Raya ini di awali dengan niat yang baik...... oleh
karena itu pada akhirnya semua ini akan berkesudahan dengan yang baik
pula. Prasangka yang baik kepada semua adalah pondasi kedamaian yang
paling kuat. "Aku ini menurut prasangka hamba-hamba Ku, oleh karena itu
berprasangka baiklah kepada Ku". Satu-satunya cara untuk menyebarkan
kedamaian adalah dengan menanamkan dahulu Kasih dalam hati kita
masing-masing. Kasih itu luas, kasih tidak mengenal takut, kasih tidak
mengenal saingan, kasih adalah hidup itu sendiri...
Semuanya ini adalah Satu adanya. "Kemanapun kita
memandang yang ada hanya Wajah-wajah kecantikan Mu Allah". Semoga
senantiasa demikian....Amien...
May the Force be with Us...
-Dodi Suwardi-
salah satu temen pengajian favorit gue, hehe
Tuesday, August 23, 2005
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment