Day – 03
Last day in Ora beach. Pagi kita udah bangun, berenang
bentaran (can’t help it not to jump and swim with Nemo and Dori), sarapan,
mandi, puas-puasin foto-foto, trus siap-siap kembali ke Pulau Seram. Rencananya
kita ngejar kapal yang jam 3 siang ke pelabuhan Tulehu. Jadi, jam 11 kita udah
berangkat dari Ora menuju Desa Saleman.
Selama perjalanan ke desa Saleman, gak puas-puas kita
foto-foto pemandangan disana. Lautnya, gunungnya, rumah diatas lautnya.
Beraaaaatt rasanya meninggalkan Ora. Driver yang ngejemput kita sama ama yang nganterin kita
waktu ke Saleman, sibapak yang sulit berbahasa Indonesia, yang nyetirnya
grabak-grubuk itu. Hehhehe.. and lucunya si bapak cuma mau ngobrol kalo gue
duluan yang mulai. Pinter banget dah temen-temen gue, yang ngejadiin gue
tameng, disuruh duduk didepan. Kacrut!!!
Nyampe di Tulehu, kita mampir dulu di Amahai. Rencananya mo
makan di rumah makan yang enak itu lagi, tapi ternyata lagi ada pejabat yang
makan siang disana, alhasil kita gak kedapetan tempat deh. So, kita harus puas
dengan makan pop mie di atas kapal. Hiks..
Di pulau Seram kita disambut ama mendung. Alhamdulillah
banget selama di Ora gak hujan. Kalo gak, bisa nangis Bombay di kamar, gak bisa
berenang and snorkeling.
Sebelum ke hotel, kita melewati pantai Natsepa yang
sepanjang jalannya banyak yang berjualan rujak. Pantai Natsepa ini adalah
pantai yang paling banyak dikunjungi warga Ambon. Selain lokasinya yang tidak
terlalu jauh dari kota, pantai tersebut juga relative aman untuk anak-anak
berenang, karena pantainya yang landai dan ombaknya yang tidak terlalu
besar. And kita berhenti sebentar untuk
mencoba rujak Natsepa yang terkenal itu. Seporsi 10ribu rupiah. Lumayan deh, makan
rujak sembari memandangi pantai.
Kita nginep di hotel Green Village, dekat Ambon Plaza. Hotelnya gak besar, tapi bersih. Walo pun kita judulnya backpackers-an, tapi tetep harus nyaman dong. Malemnya baru wisata kuliner. Nanya ama resepsionist tempat makan yang enak, kita di arahin ke rumah makan seafood yang lumayan terkenal didaerah sana. Naik mikrolet dari depan hotel, turun pas didepan rumah makannya. Ternyata apa yang di rekomendasikan mbak-mbak resepsionist hotel gak salah.
Makanan yang disajikan emang enak. Kita nyoba ikan bakar, udang, sayur. And semuanya enak. (antara enak ato emang laper banget). Yang paling seru adalah, colo-colo-nya aka bermacam-macam sambal yang disajikan. Pulangnya kita jalan kaki kehotel. Gak jauh kok, cuma rada becek aja, secara barusan ujan. And kita sempet mampir buat beli oleh-oleh khas Ambon, apa lagi kalo bukan minyak kayu putih, minyak lawang and minyak cengkeh. Nyampe hotel, langsung bablas tidur. Capek pake banget euy..
Kita nginep di hotel Green Village, dekat Ambon Plaza. Hotelnya gak besar, tapi bersih. Walo pun kita judulnya backpackers-an, tapi tetep harus nyaman dong. Malemnya baru wisata kuliner. Nanya ama resepsionist tempat makan yang enak, kita di arahin ke rumah makan seafood yang lumayan terkenal didaerah sana. Naik mikrolet dari depan hotel, turun pas didepan rumah makannya. Ternyata apa yang di rekomendasikan mbak-mbak resepsionist hotel gak salah.
| Ikan bakar and colo-colo |
Makanan yang disajikan emang enak. Kita nyoba ikan bakar, udang, sayur. And semuanya enak. (antara enak ato emang laper banget). Yang paling seru adalah, colo-colo-nya aka bermacam-macam sambal yang disajikan. Pulangnya kita jalan kaki kehotel. Gak jauh kok, cuma rada becek aja, secara barusan ujan. And kita sempet mampir buat beli oleh-oleh khas Ambon, apa lagi kalo bukan minyak kayu putih, minyak lawang and minyak cengkeh. Nyampe hotel, langsung bablas tidur. Capek pake banget euy..
Day – 04
Last day in Ambon. Dari pembicaraan tadi malem, akhirnya
kita memutuskan untuk jalan-jalan ke tempat rekreasi di Ambon. Gak tempat
rekreasi juga sih, secara juju raja kita gak gitu prepare untuk jalan-jalan
keliling kota. Hehehe..
Benteng Amsterdam, Masjid Wapauwe, Gereja Immanuel
Di desa Hila, kira-kira 1jam dengan mobil dari Ambon, kita bisa menemukan 3tempat peninggalan sejarah. Salah satunya Benteng Amsterdam. Benteng ini merupakan bangunan tua yang sudah berusia ratusan tahun, dan menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah penguasaan VOC di Ambon. Benteng ini terletak di tepi pantai yang sangat tenang dan indah, atapnya sudah terpasang rapi. Warna merahnya mencorok. Kontras dengan laut biru di belakang benteng. Itu bukan atap asli. Yang masih asli peninggalan Belanda dalam benteng ini adalah lantai batunya, tembok semen, dan kayu-kayu penopang beserta tangga menuju lantai atas. Juga teras kayu di lantai dua.
Benteng Amsterdam, Masjid Wapauwe, Gereja Immanuel
Di desa Hila, kira-kira 1jam dengan mobil dari Ambon, kita bisa menemukan 3tempat peninggalan sejarah. Salah satunya Benteng Amsterdam. Benteng ini merupakan bangunan tua yang sudah berusia ratusan tahun, dan menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah penguasaan VOC di Ambon. Benteng ini terletak di tepi pantai yang sangat tenang dan indah, atapnya sudah terpasang rapi. Warna merahnya mencorok. Kontras dengan laut biru di belakang benteng. Itu bukan atap asli. Yang masih asli peninggalan Belanda dalam benteng ini adalah lantai batunya, tembok semen, dan kayu-kayu penopang beserta tangga menuju lantai atas. Juga teras kayu di lantai dua.
Tempat peninggalan kedua, yaitu masjid Wapauwe. Masjid Tua Wapauwe adalah masjid yang sangat bersejarah dan merupakan masjid tertua di Maluku. Umurnya mencapai tujuh abad. Masjid ini dibangun pada tahun 1414 Masehi. Masjid yang saat ini masih berdiri dengan kokohnya, menjadi bukti sejarah Islam di Maluku pada masa lampau.
![]() |
| Masjid Wapauwe |



No comments:
Post a Comment