Day 3 – Taman Laut Pulau Rubiah
Hari ini
schedule-nya SNORKLING… Yipeee!! Kelar sarapan, kita di jemput buat nyebrang ke
pulau Rubiah. Taman Laut Pulau Rubiah – Merupakan sebuah pulau dengan luas
wilayah sekitar 2.600 Hektar yang terkenal dengan pemandangan alam bawah laut
nya. Dapat dikatakan tempat ini adalah surganya taman laut bagi para wisatawan.
Nama pulau Rubiah sendiri diambil dari nama seorang perempuan yang bernama Cut
Nyak Rubiah yang makamnya dapat ditemukan di pulau tersebut. Menurut legenda,
ada seorang suami istri yang hidup tentram di Pulau Weh. Suaminya bernama
Iboih, dan istrinya bernama Rubiah. Mereka hidup rukun di Pulau Weh, hingga
pada akhirnya, Ibu Rubiah memelihara seekor anjing untuk menemaninya. Namun,
Pak Iboih tidak setuju kalo Ibu Rubiah memelihara anjing. Maka, terjadilah
pertengkaan pasutri terhebat abad itu. Pak Iboih yang yang sudah naik pitam,
mengusir Ibu Rubiah dari rumahnya dan mengucilkannya ke pulau lain, yang
nantinya, pulau itu akan bernama Pulau Rubiah.
 |
| hello from pulau Rubiah |
 |
| Liat dong airnyaaa... |
 |
| View from pulau Rubiah |
Perjalanan
menuju Pulau Rubiah memakan waktu sekitar 20 menit dengan menggunakan kapal
boat yang disewakan oleh masyarakar sekitar pantai. Uniknya kapal disini
dilengkapi dengan sebuah kotak kaca. Saat ditengah perjalanan menuju pulau
Rubiah, kotak kaca ini akan diturunkan ke laut sehingga pengunjung dapat
melihat pemandangan bawah laut yang indah ini dengan lebih jelas. And it was...
Subhannallah.. Allah pasti in good mood waktu ciptain pulau Rubiah itu. Sama kayak
Ora yang di Seram, ini tuh, baguuuus banget.
 |
| Can u see the fish? |
Air Terjun Pria Laot
Air Terjun
Pria Laot ini terletak di hulu Gunung Sarung Keris, selatan Pulau Weh dengan
jarak sekitar 12 km dari pusat Kota Sabang. Perjalanan menuju ke lokasi ini gak
semulus jalan menuju kawasan wisata Iboih atau lainnya, tetapi harus melalui
bebatuan terjal, melewati anak sungai sambil memandangi pemandangan nan-indah
di alam liar. Perjalanan bisa dikatakan seperti melakukan lintas alam, tetapi
tidak terasa lelah, walau harus berjalan kaki sekitar 30 menit dari ujung desa.
Begitu tiba, tampak pemandangan menakjubkan dari atas bukit setinggi sekitar 15
meter, air terjun menerjang bebatuan sebelum terhempas ke kolam berdiameter
sekitar 10 meter dengan kedalaman antara 1 sampai 1,5 meter. http://www.pulauweh.net/air-terjun-pria-laot/
Perjalanan tambah
sulit ketika sang guide bilang, kalo 2 minggu sebelum kedatangan kita, lokasi
ini tersapu banjir yang mengakibatkan jembatan penghubung patah. Walopun keringetan,
hampir kepleset plus angkat-angkat celana karena takut basah, tapi pas ngeliat
air terjunnya and anak-anak local yang terjun bebas dari batu tertinggi, kita
jadi ikutan excited. Ahahaha.
Benteng Jepang Anoi Itam
 |
| View from where I stand |
Benteng
peninggalan pasukan Jepang ini terletak di sebelah pantai Anoi Itam. Kondisinya
dibilang baik juga enggak, soalnya hanya tertinggal reruntuhannya aja. Dan banyak
coretan dari orang-orang iseng. Katanya dulu, benteng ini selain jadi tempat
perlindungan, dipakai juga untuk tempat penyimpanan amunisi tentara jepang. Tapi
pemandangan yang bisa kita lihat dari situ, was breath taking. Tapi emang
disayangkan sih, gak di rawat untuk jadi salah satu objek wisata.
 |
| Gak tau ini apa, tapi enak.. |
Malam itu
kita dinner di Freddie’s. soalnya baca review dari yang udah pernah stay
disini, katanya masakan Freddie itu enak. And apa yang di bilang reviewer dan
kenyataannya itu, bener banget… btw, Freddie itu nama owner penginapan kita. Kakek
asal Afrika Selatan ini selain owner, beliau juga turun tangan untuk
mempersiapkan masakan para tamu. Ikutan bangun pagi, menyapa para tamu yang
sarapan pagi, menanyakan apa kita memerlukan sesuatu hari ini, dan melepas tamu
yang check out dengan ucapan dalam Bahasa Indonesia “selamat jalan, datang lagi
ya. Hati-hati”. Jadi berasa dianterin eyang kakung kalo mo sekolah. Huahaha.. Makan
malam tidak akan dimulai sebelum semuanya berkumpul, dan setelah semua
berkumpul Mr. Freddie akan menjelaskan setiap menu yang dia hidangkan saat itu.
Seperti terbuat dari apa, bumbu-bumbu yang digunakan, serta cara memasaknya dan
berapa lama. Setelah selesai makan dan ketika kami sedang menikmati makanan
penutup, dia akan datang ke setiap meja dan menanyakan apa yang kami makan dan
apakah menikmatinya dan bagaimana rasanya. Kalo begini berasa kayak ditanyain
ama si emak “enak gak masakannya? Nambah yaaa…” hehehe..
 |
| Senja di Freddie's |
Ada kejadian
serem di malam terakhir kita di Freddie’s. Malam itu, karena capek, kelar makan
jam 9, kita langsung masuk kamar. Mandi, bersih-bersih, packing, pake koyo
(yeah, ini satu hal baru selama disini), balur minyak telon, kaos kaki, gue
udah siap buat tidur. Jam 11an gue dibangunin ama Rastri. Ternyata hujan dan
anginnya kenceng banget. Ditambah suara ombak dari depan kamar yang bikin kita
nambah parno, akhirnya kita sibuk Tarik-tarik tempat tidur supaya gak terlalu
dekat dengan jendela. Secara dinding kamar kita terbuat dari bamboo, cuy.. kalo
ada angin puyuh, yassalam lah sudah. Rastri sempet panic, but kita agak sedikit
aman karena karyawan hotel ada yang keliling cottage untuk memastikan gak ada
apa-apa. Malam itu kita gak bisa tidur nyenyak. Serem sih, but ada cerita lah..
Ngeri-ngeri sedap. Kayak lo nyetir di pinggir jalan tol yang sebelah kanan lo
mobil dan sebelah kiri lo pagar besi. Huahha..
Udah ah.. ntar di sambung lagi...
to be cont..
No comments:
Post a Comment