Pages

Subscribe Twitter

Sunday, November 30, 2014

Sabang getaway - part III

Day 3 – Taman Laut Pulau Rubiah

Hari ini schedule-nya SNORKLING… Yipeee!! Kelar sarapan, kita di jemput buat nyebrang ke pulau Rubiah. Taman Laut Pulau Rubiah – Merupakan sebuah pulau dengan luas wilayah sekitar 2.600 Hektar yang terkenal dengan pemandangan alam bawah laut nya. Dapat dikatakan tempat ini adalah surganya taman laut bagi para wisatawan. Nama pulau Rubiah sendiri diambil dari nama seorang perempuan yang bernama Cut Nyak Rubiah yang makamnya dapat ditemukan di pulau tersebut. Menurut legenda, ada seorang suami istri yang hidup tentram di Pulau Weh. Suaminya bernama Iboih, dan istrinya bernama Rubiah. Mereka hidup rukun di Pulau Weh, hingga pada akhirnya, Ibu Rubiah memelihara seekor anjing untuk menemaninya. Namun, Pak Iboih tidak setuju kalo Ibu Rubiah memelihara anjing. Maka, terjadilah pertengkaan pasutri terhebat abad itu. Pak Iboih yang yang sudah naik pitam, mengusir Ibu Rubiah dari rumahnya dan mengucilkannya ke pulau lain, yang nantinya, pulau itu akan bernama Pulau Rubiah. 

hello from pulau Rubiah

Liat dong airnyaaa...

View from pulau Rubiah
Perjalanan menuju Pulau Rubiah memakan waktu sekitar 20 menit dengan menggunakan kapal boat yang disewakan oleh masyarakar sekitar pantai. Uniknya kapal disini dilengkapi dengan sebuah kotak kaca. Saat ditengah perjalanan menuju pulau Rubiah, kotak kaca ini akan diturunkan ke laut sehingga pengunjung dapat melihat pemandangan bawah laut yang indah ini dengan lebih jelas. And it was... Subhannallah.. Allah pasti in good mood waktu ciptain pulau Rubiah itu. Sama kayak Ora yang di Seram, ini tuh, baguuuus banget.

Can u see the fish?
Air Terjun Pria Laot

Air Terjun Pria Laot ini terletak di hulu Gunung Sarung Keris, selatan Pulau Weh dengan jarak sekitar 12 km dari pusat Kota Sabang. Perjalanan menuju ke lokasi ini gak semulus jalan menuju kawasan wisata Iboih atau lainnya, tetapi harus melalui bebatuan terjal, melewati anak sungai sambil memandangi pemandangan nan-indah di alam liar. Perjalanan bisa dikatakan seperti melakukan lintas alam, tetapi tidak terasa lelah, walau harus berjalan kaki sekitar 30 menit dari ujung desa. Begitu tiba, tampak pemandangan menakjubkan dari atas bukit setinggi sekitar 15 meter, air terjun menerjang bebatuan sebelum terhempas ke kolam berdiameter sekitar 10 meter dengan kedalaman antara 1 sampai 1,5 meter. http://www.pulauweh.net/air-terjun-pria-laot/

Perjalanan tambah sulit ketika sang guide bilang, kalo 2 minggu sebelum kedatangan kita, lokasi ini tersapu banjir yang mengakibatkan jembatan penghubung patah. Walopun keringetan, hampir kepleset plus angkat-angkat celana karena takut basah, tapi pas ngeliat air terjunnya and anak-anak local yang terjun bebas dari batu tertinggi, kita jadi ikutan excited. Ahahaha.



Benteng Jepang Anoi Itam

View from where I stand
Benteng peninggalan pasukan Jepang ini terletak di sebelah pantai Anoi Itam. Kondisinya dibilang baik juga enggak, soalnya hanya tertinggal reruntuhannya aja. Dan banyak coretan dari orang-orang iseng. Katanya dulu, benteng ini selain jadi tempat perlindungan, dipakai juga untuk tempat penyimpanan amunisi tentara jepang. Tapi pemandangan yang bisa kita lihat dari situ, was breath taking. Tapi emang disayangkan sih, gak di rawat untuk jadi salah satu objek wisata.

Gak tau ini apa, tapi enak..
Malam itu kita dinner di Freddie’s. soalnya baca review dari yang udah pernah stay disini, katanya masakan Freddie itu enak. And apa yang di bilang reviewer dan kenyataannya itu, bener banget… btw, Freddie itu nama owner penginapan kita. Kakek asal Afrika Selatan ini selain owner, beliau juga turun tangan untuk mempersiapkan masakan para tamu. Ikutan bangun pagi, menyapa para tamu yang sarapan pagi, menanyakan apa kita memerlukan sesuatu hari ini, dan melepas tamu yang check out dengan ucapan dalam Bahasa Indonesia “selamat jalan, datang lagi ya. Hati-hati”. Jadi berasa dianterin eyang kakung kalo mo sekolah. Huahaha.. Makan malam tidak akan dimulai sebelum semuanya berkumpul, dan setelah semua berkumpul Mr. Freddie akan menjelaskan setiap menu yang dia hidangkan saat itu. Seperti terbuat dari apa, bumbu-bumbu yang digunakan, serta cara memasaknya dan berapa lama. Setelah selesai makan dan ketika kami sedang menikmati makanan penutup, dia akan datang ke setiap meja dan menanyakan apa yang kami makan dan apakah menikmatinya dan bagaimana rasanya. Kalo begini berasa kayak ditanyain ama si emak “enak gak masakannya? Nambah yaaa…” hehehe..

Senja di Freddie's
Ada kejadian serem di malam terakhir kita di Freddie’s. Malam itu, karena capek, kelar makan jam 9, kita langsung masuk kamar. Mandi, bersih-bersih, packing, pake koyo (yeah, ini satu hal baru selama disini), balur minyak telon, kaos kaki, gue udah siap buat tidur. Jam 11an gue dibangunin ama Rastri. Ternyata hujan dan anginnya kenceng banget. Ditambah suara ombak dari depan kamar yang bikin kita nambah parno, akhirnya kita sibuk Tarik-tarik tempat tidur supaya gak terlalu dekat dengan jendela. Secara dinding kamar kita terbuat dari bamboo, cuy.. kalo ada angin puyuh, yassalam lah sudah. Rastri sempet panic, but kita agak sedikit aman karena karyawan hotel ada yang keliling cottage untuk memastikan gak ada apa-apa. Malam itu kita gak bisa tidur nyenyak. Serem sih, but ada cerita lah.. Ngeri-ngeri sedap. Kayak lo nyetir di pinggir jalan tol yang sebelah kanan lo mobil dan sebelah kiri lo pagar besi. Huahha.. 
Udah ah.. ntar di sambung lagi... 

to be cont..

No comments: