Pages

Subscribe Twitter

Sunday, November 30, 2014

Sabang getaway - part III

Day 3 – Taman Laut Pulau Rubiah

Hari ini schedule-nya SNORKLING… Yipeee!! Kelar sarapan, kita di jemput buat nyebrang ke pulau Rubiah. Taman Laut Pulau Rubiah – Merupakan sebuah pulau dengan luas wilayah sekitar 2.600 Hektar yang terkenal dengan pemandangan alam bawah laut nya. Dapat dikatakan tempat ini adalah surganya taman laut bagi para wisatawan. Nama pulau Rubiah sendiri diambil dari nama seorang perempuan yang bernama Cut Nyak Rubiah yang makamnya dapat ditemukan di pulau tersebut. Menurut legenda, ada seorang suami istri yang hidup tentram di Pulau Weh. Suaminya bernama Iboih, dan istrinya bernama Rubiah. Mereka hidup rukun di Pulau Weh, hingga pada akhirnya, Ibu Rubiah memelihara seekor anjing untuk menemaninya. Namun, Pak Iboih tidak setuju kalo Ibu Rubiah memelihara anjing. Maka, terjadilah pertengkaan pasutri terhebat abad itu. Pak Iboih yang yang sudah naik pitam, mengusir Ibu Rubiah dari rumahnya dan mengucilkannya ke pulau lain, yang nantinya, pulau itu akan bernama Pulau Rubiah. 

hello from pulau Rubiah

Liat dong airnyaaa...

View from pulau Rubiah
Perjalanan menuju Pulau Rubiah memakan waktu sekitar 20 menit dengan menggunakan kapal boat yang disewakan oleh masyarakar sekitar pantai. Uniknya kapal disini dilengkapi dengan sebuah kotak kaca. Saat ditengah perjalanan menuju pulau Rubiah, kotak kaca ini akan diturunkan ke laut sehingga pengunjung dapat melihat pemandangan bawah laut yang indah ini dengan lebih jelas. And it was... Subhannallah.. Allah pasti in good mood waktu ciptain pulau Rubiah itu. Sama kayak Ora yang di Seram, ini tuh, baguuuus banget.

Can u see the fish?
Air Terjun Pria Laot

Air Terjun Pria Laot ini terletak di hulu Gunung Sarung Keris, selatan Pulau Weh dengan jarak sekitar 12 km dari pusat Kota Sabang. Perjalanan menuju ke lokasi ini gak semulus jalan menuju kawasan wisata Iboih atau lainnya, tetapi harus melalui bebatuan terjal, melewati anak sungai sambil memandangi pemandangan nan-indah di alam liar. Perjalanan bisa dikatakan seperti melakukan lintas alam, tetapi tidak terasa lelah, walau harus berjalan kaki sekitar 30 menit dari ujung desa. Begitu tiba, tampak pemandangan menakjubkan dari atas bukit setinggi sekitar 15 meter, air terjun menerjang bebatuan sebelum terhempas ke kolam berdiameter sekitar 10 meter dengan kedalaman antara 1 sampai 1,5 meter. http://www.pulauweh.net/air-terjun-pria-laot/

Perjalanan tambah sulit ketika sang guide bilang, kalo 2 minggu sebelum kedatangan kita, lokasi ini tersapu banjir yang mengakibatkan jembatan penghubung patah. Walopun keringetan, hampir kepleset plus angkat-angkat celana karena takut basah, tapi pas ngeliat air terjunnya and anak-anak local yang terjun bebas dari batu tertinggi, kita jadi ikutan excited. Ahahaha.



Benteng Jepang Anoi Itam

View from where I stand
Benteng peninggalan pasukan Jepang ini terletak di sebelah pantai Anoi Itam. Kondisinya dibilang baik juga enggak, soalnya hanya tertinggal reruntuhannya aja. Dan banyak coretan dari orang-orang iseng. Katanya dulu, benteng ini selain jadi tempat perlindungan, dipakai juga untuk tempat penyimpanan amunisi tentara jepang. Tapi pemandangan yang bisa kita lihat dari situ, was breath taking. Tapi emang disayangkan sih, gak di rawat untuk jadi salah satu objek wisata.

Gak tau ini apa, tapi enak..
Malam itu kita dinner di Freddie’s. soalnya baca review dari yang udah pernah stay disini, katanya masakan Freddie itu enak. And apa yang di bilang reviewer dan kenyataannya itu, bener banget… btw, Freddie itu nama owner penginapan kita. Kakek asal Afrika Selatan ini selain owner, beliau juga turun tangan untuk mempersiapkan masakan para tamu. Ikutan bangun pagi, menyapa para tamu yang sarapan pagi, menanyakan apa kita memerlukan sesuatu hari ini, dan melepas tamu yang check out dengan ucapan dalam Bahasa Indonesia “selamat jalan, datang lagi ya. Hati-hati”. Jadi berasa dianterin eyang kakung kalo mo sekolah. Huahaha.. Makan malam tidak akan dimulai sebelum semuanya berkumpul, dan setelah semua berkumpul Mr. Freddie akan menjelaskan setiap menu yang dia hidangkan saat itu. Seperti terbuat dari apa, bumbu-bumbu yang digunakan, serta cara memasaknya dan berapa lama. Setelah selesai makan dan ketika kami sedang menikmati makanan penutup, dia akan datang ke setiap meja dan menanyakan apa yang kami makan dan apakah menikmatinya dan bagaimana rasanya. Kalo begini berasa kayak ditanyain ama si emak “enak gak masakannya? Nambah yaaa…” hehehe..

Senja di Freddie's
Ada kejadian serem di malam terakhir kita di Freddie’s. Malam itu, karena capek, kelar makan jam 9, kita langsung masuk kamar. Mandi, bersih-bersih, packing, pake koyo (yeah, ini satu hal baru selama disini), balur minyak telon, kaos kaki, gue udah siap buat tidur. Jam 11an gue dibangunin ama Rastri. Ternyata hujan dan anginnya kenceng banget. Ditambah suara ombak dari depan kamar yang bikin kita nambah parno, akhirnya kita sibuk Tarik-tarik tempat tidur supaya gak terlalu dekat dengan jendela. Secara dinding kamar kita terbuat dari bamboo, cuy.. kalo ada angin puyuh, yassalam lah sudah. Rastri sempet panic, but kita agak sedikit aman karena karyawan hotel ada yang keliling cottage untuk memastikan gak ada apa-apa. Malam itu kita gak bisa tidur nyenyak. Serem sih, but ada cerita lah.. Ngeri-ngeri sedap. Kayak lo nyetir di pinggir jalan tol yang sebelah kanan lo mobil dan sebelah kiri lo pagar besi. Huahha.. 
Udah ah.. ntar di sambung lagi... 

to be cont..

Saturday, November 29, 2014

Sabang getaway - part II

Day 2 – Pulau Weh, Sabang

ferry di pelabuhan Ule Lhee
Nginep di penginapan yang namanya The Freddie’s di daerah Sumur Tiga yang beralamat di Jl. Bahagia, Pulau Weh, Sabang. Dari pelabuhan Balohan ke tempat ini hanya diperlukan waktu 10-15 menit berkendaraan. Dan kali ini kita gak pake bentor, tapi kita pake Oddessy.. huahaha… yup..yup.. my wishlist car kalo punya duit buat beli. Aamiin.. Tapi kalo dipikir-pikir, kita selalu beruntung punya guide yang baik dan service yang bagus. Alhamdulillah gak nyusahin, maksudnya. 

Tempat ini dikelola oleh seorang pria berkebangsaan Afrika Selatan bernama Mr. Freddie. “Welcome, to our little paradise, please relax and enjoy your stay. It is our pleasure to serve you”, sapaan hangat Mr. Freddie buat kami ketika baru tiba di Santai Sumur Tiga. Penginapan ini terletak persis di depan Pantai Sumur Tiga, pantai cantik dengan pasir putih. Ombaknya lumayan besar, rada serem sih awalnya, but lama-lama terbiasa ngedengernya.


view pantai sumur tiga dari kamar kita
Setiap bungalow memiliki dua tempat tidur, atau satu tempat tidur besar (kita dapet bungalow no 1, dengan 1 tempat tidur besar). dilengkapi dengan kulkas kecil dan dispenser. Kamar mandinya juga sudah dilengkapi dengan air panas dan air dingin. Setiap balkon sudah dilengkap dengan hammock, (yang gak berani kita pakai buat tiduran, tapi malah di jadiin tempat jemuran) huff… kalo  nyamuk sih gak ada, cuma banyak tokek yang suaranya ngalahin suara ombak.

Penginapan Santai Sumur Tiga dibangun paska Tsunami, terbuat dari gedek bambu serta kayu. Listrik yang digunakan pun berasal dari panas surya. Karena tidak mengandalkan listrik dari PLN, listrik selalu tersedia di sini, tidak seperti di Iboih ato Ora. WI-FI pun tersedia, yang menjadi nilai tambah lagi buat penginapan ini. Penginapan ini masuk dalam buku Lonely Planet Dunia lho, jadi kalau mau menginap di sini kudu reservasi dari jauh-jauh hari.

Ini kaki gue.. huahaha
Gak bisa snorkling di Iboih, disini dulu laah..
Seharian kita diajak keliling  sesuai schedule. Pertama kita sarapan dulu, trus menuju pulau Iboih yang terkenal bagusnya itu.  But, kali ini kita kurang beruntung. Pas nyampe disana, ternyata ada penduduk pulau yang meninggal. Dan untuk menghormati almarhum. kegiatan snorkeling di berhentikan sementara, setelah sholat dzuhur baru di lakukan lagi.  Akhirnya kita dibawa ke tempat diving course-nya si bang Jali, sang guide kita, yang nota bene punya 8 (DELAPAN) mobil rental.. dem.. I feel gimanaaa gitu ngedenger cerita dia tentang bisnisnya itu.. huahaha..
Snorkeling disana barengan ama instruktur diving. Yang ada kita di ketawain mulu. Huahaha.. but, gpp namaya juga lagi liburan, jadi santai wae.. iya gak? 

Kilometer Nol Indonesia
Nyampe juga disini
Capek snorkeling, almost jam 5 kita bersih-bersih dan naik ke 0 Kilometer Indonesia. Perjalanan ke tugu Kilometer Nol Indonesia yang diresmikan  Wakil Presiden RI, Try Sutrisno pada  9 September 1997 di Kota Sabang itu ternyata deket pantai Iboih. 
Gilaaaa… gak bisa ngebayangin, kalo gue nyampe juga ke ujung baratnya Indonesia. Pemandangan disana itu… was amazed. Rastri yang penikmat sunset gak berhenti-hentinya bilang “ya Allah, bagus banget”. Makan pisang goreng, minum kopi, and sunset. Perfect! Lebih perfect kalo ada seseorang yang meluk dari belakang and said “you’re the most beautiful thing here” huahaha… Alaaayyy… Kelar foto-foto, turun ke kota, makan, balik ke hotel, istirahat. 
http://www.indonesia.travel/id/destination/725/tugu-nol-kilometer-sabang  

Sunset from Nol Kilometer Indonesia

Friday, November 28, 2014

21.11.2014 - Sabang = SAntai BANGet

Udah 3 bulan kita ngerencanain buat liburan ke pulau Weh. And partner gue kali ini siapa lagi kalo bukan si Rastri. Huahaha.. dia yang ngurusin iten, gue yang ngurusin tiket. Padahal tinggal nelp si travel langganan kantor, jadi deh tuh tiket. Hehehe.. Rastri juga berpatokan ama blog-nya Marischa Prue yang pernah ke Aceh. So, dengan modal nekat and nanya sana-sini, akhirnya kita berangkat.

Wed, 12 Nov 2014
Flight kita jam 17.35 by Lion, ETA 21.30. Jam 15.30 kita udah standby di erpot. Gue naik kereta ke Sudirman, dijemput ama Rastri by taxi. Tuh anak kusut banget, gak pake make up, udah kayak mbok-mbok. And ternyata emang lagi ada masalah di kantor. Gue kasih teh botol, trus dia cerita.

Jam 16.55 udah boarding. Jam 17.25 udah di pesawat. Pamitan di wassap. We're off to Banda Aceh. Ternyata pesawatnya transit di Kuala Namu. Agak molor 30mnts dari schedule sih. But masih okay lah. Berangkat lagi setelah check in di transit counter. And nyampe Banda jam 10 malem. 

Erpot Banda beda banget ama Medan. Di Banda, erpotnya kayak di Lampung. Kecil. Masih besaran erpot Batam. Langsung ke counter taxi and ternyata di sini tuh gak ada taxi blue bird ato yang lain kalo malem. Adanya taxi koperasi yang mobilnya avanza. Lumayan lah. 95ribu ke Banda. Mampir ke tempat kopi yang lagi hitz di Banda, and pemandangannya lumayan. Ternyata disebelah warung kopinya itu Univ. Muhammadiyah. Jadi lah pemandangan kita malam ini, adek2 lucu yang lagi ngerjain tugas kuliah. Ahaaaiii... 

Jam 10.30an kita cabut ke hotel. And ternyata hotel yg di pesen Rastri jauh dari kota. Jadi lah kita pindah ke hotel yg ditengah kota. Hotelnya lumayan nyaman (nota bene, kamar mandi bersih, and ada air panasnya).

Day 1 – Banda Aceh
nasi lemak udang maknyus
Pagi udah bangun, sarapan di hotel, soalnya kita mau mulai muter-muter as planning. Kocak banget deh, masa sarapannya nasi bungkus. Namanya nasi gurih, ada 2 pilihan. Ikan ato udang. Gw ama Rastri pilih udang. And ternyata rasanya tuh kayak nasi lemak. Pake santan. And enaaaaakkk... 

Nanya ama orang hotel berapa kalo charter mobil keliling Aceh, and mereka nawarin pake bentor. Becak motor kayak di medan. Huaaaa.. Senaaang.. Mestinya ongkos si becak ini 30ribu/jam. But, kita nego.. nego.. and nego.. akhirnya mau juga di charter dari jam 10.30 ampe jam 15.00 dengan harga Rp. 150.000,- Check out dari hotel jam 10.30, muter-muter ampe jam makan siang trus ke pelabuhan buat nyebrang ke Sabang. And ternyata bentor kita itu terkenal di Banda Aceh lho... huahaha..

Tujuan I - Museum Tsunami
Karena jam 12, mereka tutup and baru buka lagi jam 2. Ya Allah, gusti. Masuk kesana bikin dada sesak and tetiba mewek. Masuk ke lorongnya udah bikin merinding. Ngeliat video, foto and lukisan tentang Tsunami, itu.. Masya Allah... Jika Allah murka, di hapus lah semua oleh-Nya. Ibaratnya, kita ini hanya ‘numpang’ doang di dunia ini. Sewaktu-waktu bisa di usir ama yang punya.

Nama korban tsunami di Ruang Sumur Doa
kolam ikan di museum tsunami
Berlokasi di Jalan Iskandar Muda, Banda Aceh, museum ini buka setiap hari (kecuali Jumat) pukul 10.00-12.00 dan 15.00-17.00. Bangunannya bergaya rumah panggung ini cukup unik karena apabila dipandang dari jarak jauh menyerupai kapal laut dengan cerobongnya. Artikel tentang museum Tsunami ini bisa di lihat di sini : http://www.indonesia.travel/id/destination/659/museum-tsunami-aceh. Kayaknya belom puas liat-liat, tapi kita harus jalan.

Tujuan II - Bangkai kapal PLTD apung

Inilah bangkai kapal besar yang karam di tengah kampung dekat Pantai Ulee Lheue. Keberadaannya mengingatkan betapa dahsyatnya tsunami di Aceh pada 26 Desember 2004. Bencana tersebut diawali gempa berkekuatan 8,9 skala richter kemudian diikuti datangnya air bah yang tidak diduga sehingga mengakibatnya ratusan ribuan orang merenggang nyawa dan meluluhlantahkan kehidupan masyarakat Banda Aceh.Kapal yg terdampar di daratan gegara kebawa air bah Tsunami. Foto-foto disana, and harus keluar gegara mereka mau istirahat jam makan siang and sholat. 

Tujuan III - Masjid Raya

can u see us? nun jauh di ujung sana? :))
Gw sempet dzuhur disana. Rastri agak bingung mau nunggu dimana. But gw ajak dia masuk, and nyuruh duduk di dalem aja. Wong masjidnya gede and dingin gitu. Kelar sholat kita lanjut lagi. Kali ini makan siang di mie aceh yg terkenal. Mie Rezali, namanya. Gw pesen mie udang and daging kuah. Rastri yg kepiting kuah. Sumpah, itu mie enak banget. Gw makannya abis. Tumbenan kata Rastri. Hehehe.. Seporsi mie aceh itu Cuma 35ribu, kalo gak salah. Tapi the Tarik disini kurang enak. Kurang berasa kalo gue bilang mah. 

Kelar makan, kita langsung menuju pelabuhan. Karena kapal terakhir jam 16.00. Off to Sabang hampir 1jam. Check in. Istirahat bentar. Mau snorkling udah kesorean. Jadi kita memutuskan untuk jalan-jalan and makan malam di cannai mamak KL yang terkenal itu. Roti cannai-nya enak. Tapi nasi kebuli-nya kurang enak kata Rastri. 

Jam 10 kita balik ke hotel. Udah ngantuk banget soalnya. And yg bikin seneng, hari ini hampir seharian ngobrol di wassap ama jidat. And kangen jadi kata yang sering di ucapkan. Gak tau liburan kali ini kayaknya berasa kangen mulu. And komunikasi masih bagus. Mungkin di Banda sinyalnya masih kenceng. Walopun kadang harus bergantung dengan wifi.
  But, gue seneng kita bisa komunikasi. 

That's for now.. to be cont.. ;)

Saturday, October 18, 2014

Gondangdia – Kemang – Bekasi

Hari ini jadwal kulineran ama anak Jelly shoes. Kenapa namanya Jelly shoes? Karena group ini terbentuk ketika cipio jalan-jalan ke Spore and semua pada nitip Jelly shoes. Hehhe.. Cuma Wanda and Zumi yang gak bisa ikutan wiskul kali ini. Gue, Pipit, Mel, Cipio plus masgam yang akan kita manfaatkan untuk jadi kapten aka driver. Lumayaann..
Cukup lho berlima ;)

Mobil yang kita pake juga pinjeman dari Datsun ID yang bekerjasama dengan radio Globalfm and nebengers. Sebenernya itu mobil dipake buat free anter jemput rute Bekasi – Sudirman. Tangerang – Sudirman. Tapi wiken bisa dipake ama kita. So, kita booked aja untuk wiskul sabtu ini. Janjian di Gondangdia buat ambil mobil, karena pool-nya di Kebon Sirih. Tapi ternyata, gak jadi ambil yang disana. Ambil yang di Bekasi aja. So, cipio and Mel yang bertugas ambil, gue, pipit ama masgam nunggu dijemput di stasiun gondangdia. Hehehe..

Tujuan pertama : Museum Tengah Kebun (http://id.wikipedia.org/wiki/Museum_di_Tengah_Kebun_)
Berbekal waze, nyampelah kita disana. But, emang belom jodoh ya, ternyata museumnya lagi ditutup buat umum. Yang punya sakit katanya. Yaaaahhh… padahal baru ngintip jalan masuknya aja udah seneng banget.

Akhirnya tujuan kedua, tempat makan. Secara udah almost jam 1an juga. Browsing sana-sini, kita memutuskan untuk makan di Blok S. kata masgam as our kapten hari itu, disana banyak jajanan. Ya udah, meluncur kesana. And ternyata, emang banyak. Puas deh mo icipin apa aja. Hehehe.. Mulai dari bakso, sate ampe es campur. Pokoknya puas deh icip-icipnya. Kelar icip-icip, kita melanjutkan perjalanan ke Pasar Santa. Pasar yang kata Pipit lagi ngehitz di kalangan anak ‘kekinian’. Bingung apa itu anak kekinian. Demikian juga gue. But, itu lah istilahnya sekarang. Okay, back to main topic. 



 
Dan menurut Kompas juga, pasar Santa sebelumnya tak pernah seramai itu. Selama tujuh tahun sejak diremajakan pada 2007, pasar itu mati suri. Banyak kios yang ditinggalkan penyewanya karena rugi. Namun, sejak Agustus lalu, dua sahabat, yakni Hendri Kurniawan dan Ve Handojo, menyulap kawasan itu menjadi tempat hangout yang unik. Kawasan itu kini menjadi salah satu ikon tempat nongkrong yang asyik di wilayah Jakarta Selatan. ”Awalnya, kios kami sewa untuk tempat berlatih barista. Namun, untuk menghabiskan biji kopi yang kami punya, dibukalah A Bunch of Caffeine Dealers (ABCD) Coffee,” kata Ve.

Salah satu toko di Pasar Santa
Dari mulut ke mulut dan dibantu kekuatan media sosial, kabar seputar kafe baru di Pasar Santa menyebar. Teman-teman Hendrik dan Ve dari komunitas kopi tertarik juga mendirikan kafe. Belakangan, lapak lain, seperti barbershop, distro, dan warung makan khas Meksiko, turut meramaikan Pasar Santa.

Kalo menurut kita sih, pasarnya kayak pasar biasa. Tipe-tipe pasar inpres deh. Yang di lantai bawah, ada pasar ikannya, trus naik ke atas, ada yang jualan baju, tukang jahit dimana-mana, tukang kelontong, ada yang jualan ember and segala macam peralatan rumah tangga. Kalo gak inget pulangnya bakalan naik kereta, udah gue beli itu kain pel. Huahaha.. Sempet belanja plastic ama sedotan buat bazaar minggu besok. Trus baru naik keatas, ngeliat pasar yang ke’kini-an’ itu. Huahaha..

Panas. Itu kesan pertama kali waktu masuk kesana. Soalnya emang gak ada kipas didalam pasar. Cuma ada exhause fan yang gedeee dilangit-langit. But, gak ngebantu juga. Muter-muter, ngeliat apa aja yang dijual. Ternyata macem-macem. Bukan hanya makanan aja yang ada disana. Dari pernak-pernik kayak kartu, buku, kaos distro, ampe piringan hitam juga ada. Makanannya pun banyak. Mulai dari sushi, mie ayam, ice cream, bento, minuman dingin ampe zuppa sup. Asik yaaaa..

Penampakan miechino yang enak itu
Sebenernya itu pasar bakalan lebih rame kalo dipasang kipas. Gak usah AC deh. Soalnya tempatnya emang asik. Kayak food court tapi di pasar.. huahhaa.. disana kita nyobain es campur kopyor, markisa and sirsak squash (eh, bener gak sih? Gue kan suka sotoy gitu) ama miechino. Honestly, nyobain mie ini juga gegara ngeliat yang ngelayanin cakep-cakep. Kokoh-kokoh kasep. Huahaha..

Range makanan disana juga gak mahal kok. Es and mie ayam pake bakso dihargai 20.000 doang. And it worth sih. Mie-nya kayak mie si rendot. Tapi gede-gede. Baksonya enak, jamurnya juga banyak. Kenyang lah pokoknya. Alhamdulillah. Kelar makan, kita foto-foto-an lagi. Karena mikir bakalan balikin mobil ke Bekasi, jadi next destination kita ke… BEKASI… ahaaaaiii..

Kata Mel, di Summarecon suka ada music kalo malam minggu. Ya udah, kita meluncur kesana. Soalnya belom ada yang pernah kesana juga. Sepanjang jalan, si Pipit mulai nyela orang Bekasi. Okay, bukan dia aja, kita semua sih. Padahal kan, gue suka yak ke Bekasi. Kalo kerumah om Agus doang sih. Tapi si Pipit puas banget ngeledekin orang Bekasi yang main air plus ceburin kakinya ke dalam kolam yang ada di sepanjang halaman mall. Ampe suaranya abis-bis gegara kebanyakan ketawa. Rasakaaannn…

Mall-nya rame. Besar. And bagus. Tipikal kayak mall-mall di Jakarta. Tapi yang paling gue suka hiasan di dinding bagian atas mall, yang terbuat dari tumbuhan hidup. Sayang gak sempet foto. Hebat ya arsitek lansekap sekarang, bisa bikin begitu. Ngobrol, makan, and gue sempet bawa souvenir aka kartu yang dikeluarkan oleh food court mereka untuk bertransaksi. Hehehe…
 Nah, yang seru pas pulang dari Bekasinya. Barengan naik kereta menuju Kota. Mel ama cipio turun di Cakung, masgam turun di Senen, kita lanjut ke Juanda, trus lanjut ke Depok. Pipit nginep di unit.But kenyataan gak sesuai dengan keinginan. Di Cakung kereta berhenti. Ada masalah katanya. Kirain Cuma 10 menit, ternyata hampir 40menit, and petugas kereta baru info kalo ada kabel yang putus di Cipinang. Akhirnya kita memutuskan untuk turun dari kereta, lanjutin naik angkot ke stasiun Jati Negara and lanjut ke Manggarai, sambal berharap ada kereta menuju Bogor. Dan bener, Alhamdulillah, Allah maha pendengar, nyampe Manggarai, nunggu 15menit, ada kereta yang langsung ke Bogor. Nyampe di unit udah jam 12an apa ya. Capek pake banget. Ada cerita hari ini. Wiskul dari Kemang ampe Bekasi. Next time, kita mau ke Cinereeee.. yeaaaayy…

Tuesday, August 26, 2014

Happy birthday..

Selamat ulang tahun.. 



Kali ini, dikasih surprise ama si ay dengan tetibaan dia dateng ke kantor buat sarapan.. Sekalian ngerayain ulang tahun dia yang pas hari ini. huahaha..


 Di group di kasih meme kang Adam ama si Ojan.. 

Am blessed.. Terima kasih buat semua perhatiannya.. #peluks



Monday, August 11, 2014

#TeamJakBar goes to Lampung

Lebaran udah lewat. And tanggal 02 September, budos Ade melangsungkan pernikahannya di Lampung. Rencananya kita mau dateng keacara beliau. Sekalian rekreasi ke Pahawang. Gue, Rastri, masgam, yang ngurusin trip ke Lampung. Minta bantuan Dodo and koordinasi ama budos juga. Akhirnya, nyewa 3 mobil, 16 orang yang ikut, kita berangkat. Jumat malam kumpul di Belezza, schedule yang mestinya berangkat jam 10 jadi molor ampe jam 11. Biasa lah, kebanyakaan foto-foto and ngurusin printilan ini-itu. Huahaha..

Selamat pagi dari Bakauheni
Gue back to back ama Ai. Jakarta – Merak, gue duluan yang nyetir. Pas di Lampung baru Ai yang nyetir. Masgam back to back ama Ipul. Omyan back toback ama siapa ya? Cipio ato Buncis gitu lah. Secara mereka pake mobil matic. Perjalanan mulus ampe Merak. Kapal berangkat malem, almost jam 2 apa ya? Lupa deh. Planningnya kita harus ngejemput mamih dan keluarga, karena mereka naik flight pagi ke Lampung. Nyampe Bandar Lampung jam 07 pagi, sempet sarapan dulu, jam 9.30 kita menuju Pahawang. Yeeeeiiiyyy…

Perjalanan ke Pahawang dari Bandar Lampung masih 2 jam lagi kalo gak salah. Pokoknya nyampe sana udah siang. Ganti baju, langsung naik kapal menuju pulau Pahawang besar. Ditengah jalan, tetiba mamih sakit perut. Kepengen pup. Apa yang terjadi? Kita mampir dulu ke resort yang (katanya) punya orang Prancis, hanya untuk nganterin mamih numpang pup. Huahahaha.. what a reason..
Narcis di tengah laut

Pulau Pahawang ini gak seperti pulau Karimun Jawa yang sangat di jaga kebersihannya. Kalau menurut gue sih, rada kurang terawat. Kita masih banyak menemukan sampah yang mengapung di tengah laut. And karangnya pun gak ‘hidup’. But, kita masih bisa nemuin Patrick aka bintang laut dan ikan-ikan hias di bawah air. Snorkling di 2 spot, and kita mampir untuk makan siang di Pulau Kelagian. Masuk ke pulau ini kita harus bayar 3.000 rupiah per-orang. 


Yes, we're FUN family
Jam 6 kita udah kembali ke Pulau Pahawang Besar untuk mandi, bersih-bersih dan siap-siap menuju Metro. Tempat budos ngadain acara resepsinya. Budos nyediain 6 kamar untuk kita di sana, yang nota bene deket tempat resepsinya. Makan dulu sebelum ke hotel. Baru istirahat.

Pagi menjelang siang udah siap-siap buat ke resepsian budos. Adat Lampung. Hhmm… gue bakalan pake singger kalo nikah nanti. Tamu undangannya lumayan rame. Makanannya enak. Tapi yang bikin seneng adalah suara penyanyinya bagus, and lagunya up to date. Jam 12 kita harus check out untuk ngejar pesawat  mamih pulang ke Jakarta. Mampir ke Bandar Lampung buat beli oleh-oleh, makan bakso Sony, trus kita langsung ke pelabuhan. Rencananya kita ngejar kapal yang jam 9. But ternyata, baru naik kapal jam 1 pagi ato jam 2an gitu lah. Nyampe Jakarta udah jam 6. Ada yang siap-siap langsung ngantor, ada yang mbolos seperti saya.

Ngerusuh di pelaminan

It's durian time, people

Saturday, June 07, 2014

Getaway to Karimun Jawa

It’s libur polkadot. Senin 26 - ngantor. Selasa 27 - tanggal merah, Rabu 28 - ngantor, Kamis 29 - libur, Jumat 30 ngantor. Ngeledek banget kan itu!! So, modal nekad, Rabu, 28 June 2014, gue and Rastri memutuskan untuk liburan. Browsing sana, browsing sini, akhirnya kita memutuskan untuk liburan ke Karimun Jawa. As usual, dia yang bikin Itinerary, gue tinggal transfer, bayar and packing.

Wed, 28 June 2014 – berangcuts..
Tujuan pertama ke Purwokerto dulu, kita mampir ke rumah Rastri di Kroya. Depart from Jakarta jam 08.30, nyampe Kroya jam 2 pagi. Sumpah, naik kereta business itu melelahkan. But at least ada charger, jadi gak mati gaya. Killing time by chatting with si jidat, and akhirnya tidur. 

Nyampe rumah Rastri, kita tidur. Makan, siap-siap lagi buat ngejar bus ke Semarang. And ternyata kita ketinggalan bus aja dong saudara-saudara.. huahaha.. akhirnya memutuskan untuk ambil bus tujuan Jogja, dengan harapan bisa nyampe Semarang ontime. But, Alhamdulillah supir bis-nya baik banget, nunjukin rute alternative buat ke Semarang.

Thurs, 29 June 2014
Jam 15.30 dari Purwokerto, jam 19.00 nyampe Kutuharjo, jam 20.00 we’re off to Semarang by travel. Duduk nyaman aman damai (okay, setelah ngusir beberapa penumpang buat duduk dibelakang), kita nyampe di Semarang dini hari.

Makan di nasi ayam Simpang Lima, drop to hotel, and istirahaaattt… Semua akomodasi and transportasi Rastri yang handle. And she’s good. Seriously, gue cuma bawa badan and ransel doang. And of course, just keep your mouth shut and do not complain. Huahaha…

Rehat bentar sebelum ngelanjutin perjalanan

















Friday, 30 June 2014
Jam 9 pagi dijemput travel untuk berangkat ke Jepara. Jam 11 siang, nyampe pelabuhan Jepara, bayar tiket bus untuk pulang, makan siang, and… KARIMUN JAWA, We’re coming… ahhhaaaaiiii..
sunset and me! ahhaaaiii..

View from balkon hotel tempat kita nginep





















Kita pakai speed boat yang memakan waktu 2 jam untuk mencapai pulau Karimun Jawa besar. Tambah deg-deg-an waktu ngeliat view dari pinggir dermaga. And it almost sunset. Naik motor ke bukit Joko Tuwo, menikmati view dari atas bukit plus menikmati sunset, abis magrib pulang ke hotel, mandi, bersih-bersih, and off to dinner di alun-alun. Makan malam ini disponsori dengan ikan bakar, udang goreng tepung yang sumpaaah, enak banget! Makan bertiga ama si kucing, guide kita selama kita disana, plus di temani music live ala karimun jawa. Ahaaaiii..

Saturday, 31 June 2014
Jam 8an kita udah di jemput ama Kucing buat snorkeling. Ramean ama group yang lain, akhirnya kita jalan juga. Hi, nemo, coral, here we come… syalalala..

Spot pertama yang kita kunjungi itu, pulau cemara kecil. Subhanallah, Allah pasti lagi in the good mood waktu ciptain pulau seindah itu. Sama kayak pertama kali ngeliat Ora beach, lo akan berhenti sejenak untuk bersyukur karena masih diberi kesempatan menikmati ciptaan-Nya. Kita snorkeling sebentar sembari nunggu waktu makan siang. Makan siang ala bbq ramean. Sambelnya mantep, ikannya fresh and pesertanya juga asyik. Foto-foto and sempet ketiduran (forgive my sleepy eyes) trus kita lanjut hopping island yang kedua.
it's heaven - Pulau Cemara Kecil

Kita ke Pulau Tengah (kalo gak salah namanya), aaaiisshhh, apalah gue ini, mo nulis kok lupa nama tempat-tempatnya. Ternyata selain ngantukan, gue juga lupaan. Huahahha.. Di pulau ini kita sempet ketemu ama rombongan yang lain. Makes friend and narcis bersamaaaa… huahaha…

Pulang ke Karimun besar udah hampir magrib. Sempet menikmati sunset sebentar sebelum balik ke hotel buat bersih-bersih and makan malam. It was beautiful... Gak lebay, but karena gue jarang banget menikmati sunset (apalagi sunrise), ini tuh bagus.

cetek lho airnya, and anget.. ;) - Pulau Tengah
Makan malam ditempat yang sama, menu yang sama (Rastri ketagihan udang goreng menteganya) and emang enak pake banget sih. Plus, murah aja saudara-saudaraaa… huahaha..

Sun, 01 July 2014

Hari ini jadwalnya kita pulang. Why… whyyyy… huhuhuhu.. Pagi kita udah disamperin buat ke pulau Menjangan. Mau di ajakin wisata air aka berenang bareng hiu. But dikarenakan gue mens hari kedua and Rastri baru hari ini dapet mens, gagal lah foto bareng si hiu. Gak lucu kan cuy, masuk utuh, naik kakinya ilang satu? Eerrgghhh… So, kita wisata darat aja. Di pinjemin motor ama si Kuching, pake cengdem, kita jalan-jalaaan. Syalalala.. tujuan pertama ke bukit cinta. Gak usah di ceritain kenapa, liat aja foto kita berdua. 
we found love.. dududuudu..




girls just wanna have fun.. ;))


















After that, tujuan kedua, pulau topeng. Jalan kesini agak menyeramkan, soalnya licin and gak ada anak tangga. Udah kayak hiking. Gak berani ke tengah, secara gue pake jeans, cukup menikmati dari pinggir pantai aja. Gak kalah ama pulau cemara kecil. Sama-sama bikin kita berucap “subhanallah..” Airnya bening and awannya bagus banget. Gak rela buat pulang ninggalin pulau ini. But, we have to leave. Jam 14.00 kita udah dikapal ninggalin karimun jawa. Sampai jumpa lagi.. we’ll be back, for sure.. :)


can I stay a little bit longer, please..
another heaven - Pulau topeng

Friday, February 28, 2014

5 checked. 4 more to go.. :)




 

Citra nikaahhh… yayaya... Citruz yang always said “marriage is just a piece of paper” itu akhirnya menikah. Aahhaaiii… Alhamdulillah. To be honest, gue lupa nama panjang Citruz and nama suaminya. Maaf kaaan… lupa foto undangannya, and lupa foto souvenirnya.

Wednesday, 26 Feb, 2014. And pernikahannya cukup memberikan kesan. Kenapa?? Karena, acaranya gak sacral sama sekali. Mulai dari bokap kandungnya yang tetiba masuk kamar pas dia lagi di make-up. Trus selama akad nikah, tuh anak bawaannya cekikian mulu. Yang mestinya pas acara sungkeman, kita suka ikutan mewek, ini enggak sama sekali. Dia sibuk benerin cara duduknya, garuk-garuk punggung, and nyengir-nyengir teu puguh. 

Ladies minus Grace and bebeh 
Kelar akad nikah yang ditanya pertama kali adalah “hp gue mana?” halah… and yang lebih parah adalah, mobil pengantennya pake mobil si Eva, plus Eva yang jadi supirnya. Huahaha… bener-bener deh tuh anak. Untung dia masih inget manggil penghulu.

But anyway, semoga pernikahannya langgeng ampe maut memisahkan. Bukan ampe nini-aki. Tapi sampai maut memisahkan. Aamiin.. aamiin..

Grace. Vinyon. Bongkie. Citruz. Check.. 5 down, 4 more to go.. *lope-lope*